Aceh Tamiang - Humas : Adalah Zaiman seorang Datok Penghulu Kampung Kuala Genting Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang, Beliau adalah sosok yang peduli terhadap kelestarian alam wilayah pesisir dan berinisiatif mengembangkan potensi wisata yang ada diwilayahnya.

Sejak maraknya pembalakan liar terhadap hutan cemara dan hutan bakau di sepanjang kawasan pesisir Pantai Kampung Kuala Genting, Ia berkali-kali merasa prihatin atas perbuatan oknum masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Sepertinya, ancaman dan bentuk bahaya akibat dari penggundulan hutan mangrove diabaikan begitu saja oleh mereka. Padahal, akibat dari perbuatan mereka tersebut ialah terganggunya keseimbangan ekosistem.

“Mereka menebang hutan manggrove untuk bahan dapur arang sementara pohon cemara untuk membuat dermaga, jembatan dan bangunan lainnya yang berhubungan dengan aktivitas pernelayanan,” kata Zaiman kepada Tim Informasi Humas, Rabu(13/01/20).

Saat itu Zaiman bersama Tim Informasi Humas Pemkab Aceh Tamiang, Camat Bendahara, Unsur Forkopimcam melakukan penelusuran disepanjang wilayah pesisir tersebut guna meninjau potensi wisata yang dimiliki Kampung Kuala Genting.

Kampung Kuala Genting dikenal oleh masyarakat sekitar memiliki satu wisata unggulan yang bernama Pantai Cemara. Konon, dinamai Pantai Cemara, karena seluas areal pantai ditumbuhi oleh Pohon Cemara nan Indah yang mengkerucut dan menjulang tinggi ke atas. Tiba disana, Tim Informasi Humas disuguhi dengan pemandangan luar biasa tanpa batas memandang.

Hal yang menakjubkan dan menjadi daya tarik bagi keberadaan Pantai tersebut ialah, adanya Satwa Langka yang bernama latin Batagur Borneoensis atau dikenal dengan nama Tuntong Laot yang sejenis dengan kura-kura. Keberadaan Satwa langka ini, dikatakan oleh Zaiman dan Tim Observasi Tuntong Laot akan menjadi ke khasan wisata Pantai Cemara dengan keberadaan penangkaran Tuntong disini.

“Wisata pantai umumnya sudah sangat biasa. Di lokasi wisata Pantai Cemara nantinya akan dirancang sebagai kawasan penangkaran dan konservasi satwa tuntong laot, sebagai sarana dan prasarana untuk kegiatan wisata, pusat informasi pendidikan, pelatihan serta pusat riset,” kata Samsul Bahri salah seorang dari Tim Observasi, yang juga merupakan Pegawai Negeri dari Dinas Pangan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Aceh Tamiang.

“Setidaknya ada lebih kurang sekitar 700 (tujuh ratus) ekor Tuntong Laot lagi yang di Observasi untuk wilayah Kecamatan Bendahara dan Banda Mulia,” terangnya lagi

Sangat disayangkan, Jika keinginan besar Bapak Zaiman dan Tokoh Masyarakat untuk membesarkan dan memprimadonakan potensi wisata di Kampungnya terhambat oleh aktivitas oknum masyarakat yang merusak dan menciderai keindahan ekosistem alam. Pemerintah Daerah sangat mengapresiasi sosok Bapak Zaiman, yang meski sudah masuk di usia senja, semangatnya tetap menyala. Kepedulian dan Inisiatifnya patuh dicontoh oleh Kaum- Kaum Muda yang kelak akan menikmati indahnya Pariwisata Bumi Muda Sedia.

“Harapan kami kepada Pemerintah Aceh Tamiang, agar dimasa yang akan datang, penangkaran satwa Tuntong Laot dibuat lebih layak lagi agar suatu saat dinikmati oleh anak cucu kita. Dengan begitu mereka bisa mengenal hewan endemik dan menikmati keindahan alam di wilayah pesisir Tamiang,” harap Zaiman.

“Mari sama-sama kita menikmati keindahan pantai cemara sembari melestarikan kebudayaan dan ekosistem yang ada di kawasan pesisir Pantai Cemara/Pantai Kuala Genting,” ajaknya penuh semangat.