BILA DITANGGULANGI BERSAMA, PENYAKIT KAKI GAJAH DAPAT DICEGAH

Ketua TP-PKK Kabupaten Aceh Tamiang, Rita Syntia, ST., MM., ketika memaparkan materi dalam kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Penanggulangan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, Selasa (10/09/2019), di Kantor Camat Kejuruan Muda. [dok. TP-PKK 2019]

 

Aceh Tamiang – Humas: Demikian disampaikan Ketua TP-PKK Kabupaten Aceh Tamiang, Rita Syntia, ST., MM., dalam kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Penanggulangan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, yang dilaksanakan di Kantor Kecamatan Kejuruan Muda, Selasa (10/09/19) sekira pukul 09.00 WIB. Kegiatan diikuti oleh unsur Forkpimcam serta seluruh staf Kecamatan, Puskesmas, dan pengurus PKK Kampung dalam Kecamatan Kejuruan Muda.

Dalam kesempatan ini, Rita Syntia menjelaskan, pencegahan penyakit kaki gajah yang dapat menular ini, akan lebih efektif jika para ibu-ibu PKK Kampung ikut terlibat langsung. Ini dilakukan untuk ikut berpartisipasi dan berperan aktif membantu Dinas Kesehatan dan Perangkat Kampung dalam penanggulangan penyakit tersebut langsung ke akarnya.

Rita yang turut didampingi Camat Kejuruan Muda, Rusni Devi A. Manullang, dan Kepala Dinas Kesehatan, dr. Catur Haryati, menyebutkan, tindakan pencegahan ini sebenarnya menjadi kunci penanggulangan penyakit kaki gajah. Dijelaskan pula, tindakan pencegahan dapat dimulai dari hal sederhana.

“Gerakan 3 M dan 3M Plus dapat digalakkan guna menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Gerakan 3 M dimulai dari mengubur benda-benda yang bisa menjadi wadah genangan air di sekitaran rumah, sampai dengan minum obat pencegah kaki gajah yang dipantau oleh Dinas Kesehatan, untuk memastikan obat diminum oleh masyarakat,” demikian ungkapnya.

Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti; 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Dijelaskan, Filariasis atau penyakit kaki gajah disebabkan oleh tiga spesies cacing Filaria, yaitu Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori, yang ditularkan dengan perantaraan nyamuk sebagai vektornya. Berbeda dengan penyakit DBD atau Malaria yang hanya ditularkan oleh satu jenis nyamuk tertentu, penyakit kaki gajah dapat ditularkan oleh semua jenis nyamuk, baik genus Anopheles, Culex, Aedes, dan Armigeres.

Penyakit kaki gajah ditularkan saat seekor nyamuk menghisap darah seseorang yang mengandung anak cacing Filaria yang disebut mikrofilaria. Anak cacing Filaria tersebut kemudian menjadi parasit di dalam tubuh nyamuk selama lebih kurang dua minggu dan berubah menjadi larva L3. Saat nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang lain, larva L3 tersebut masuk ke dalam tubuh orang tersebut, tumbuh dan berkembang selama berbulan-bulan menjadi cacing Filaria dewasa di dalam pembuluh dan kelenjar getah bening (kelanja limfa) manusia.

Berbulan-bulan kemudian, cacing Filaria dewasa mampu menghasilkan cacing-cacing kecil mikrofilaria yang beredar aktif di peredaran darah tepi pada waktu malam hari, namun saat siang hari mikrofilaria berada di kapiler darah organ dalam.

Seseorang yang menderita penyakit kaki gajah (Filariasis) akan berdampak pada psikologis penderita dan keluarganya, misalnya disembunyikan oleh keluarga atau sengaja menyembunyikan diri. Penderita tidak dapat bekerja secara optimal, hidupnya bergantung kepada orang lain sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Meski telah menyelesaikan pengobatan, pembengkakan yang dialami sebagian besar penderita tidak dapat disembuhkan (bersifat menetap). Penderita dan keluarga penderita penyakit kaki gajah harus bisa dan mampu mencegah dan membatasi kecacatan secara mandiri agar tidak bertambah parah.

Hal-hal tersebut di ataslah yang melatari mengapa kegiatan advokasi dan sosialisasi menjadi penting. Ini karena, Program Advokasi dan Sosialisasi Penanggulangan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis mesti terintegrasi dan terkoordinasi dengan seluruh program dan sektor terkait. Rita berharap, dengan terlaksananya kegiatan advokasi dan sosialisasi ini, yang didukung secara maksimal dari semua program dan sektor terkait, maka akan dapat menurunkan secara bermakna angka kesakitan akibat penyakit tular vektor dan zoonosis. [ck/zuw]

 


Cetak   E-mail